Aku cinta sama kamu bukan karena kamu hadiahi aku mimpi-mimpi itu, atau yang lainnya. Aku cinta kamu karena aku cinta. Tp kenapa dalam proses memahami, kamu selalu jadi pihak yang paling ingin dimengerti. Sedangkan untuk aku, kamu menganggap aku mudah untuk diphami tp sebenarnya aku rasa kamu belum bisa memamahi aku padahal cara untuk memahami aku itu sederhana dan gampang.


Aku gak tahu mau curhat ke siapa kalau lagi kayak gini. Rasanya sesak dan gak bisa tidur. Saat-saat kayak gini aku kepingin punya kakak yang bisa nenangin dan nasehatin aku. Tp aku gak punya. Dan aku cuma bisa manggil papa/ alm. Mbah dari sini.

22 April 2017

02.19 am

Konco-koncoku

Gantian. Kini giliran aku mengulas teman-teman dekatku di sini. Dari temen yang aku bisa ngomongnya kasar sama dia seperti b*tch, f*ck, sh*t, sampah!, sampai teman liqo. Aku sangat bersyukur mengenal mereka. Peran mereka sangat berarti untuk aku bisa survive. Meskipun memang mereka tidak tertarik untuk membahas hal-hal seperti politik, sejarah, ya bidang-bidang di luar farmasi apalagi ngobrolin hal yang bikin gelisah maka sebisa mungkin aku menghindari topik tersebut karena gak mau pertemanan kami jadi renggang. Here we go. 

(aku ikutin format tulisan kamu ya)


Natasha Dwinanda

Temenku yang satu ini dari Tangerang Selatan.  Termasuk rajin. Manggilnya suka beb. Aku mulai kenal Natasha lupa semester berapa. Semenjak semester itu karena kami sekelas, kami jadi dekat. Ada kesamaan diantara kami. Yakni kami orangnya suka jalan sendirian. Natasha selalu bilang kalau dia gak punya teman, padahal menurutku dia termasuk orang yang gampang untuk menjalin pertemanan. Kami bisa belajar bareng mengenai Farmasi, curhat masalah pribadi, sewaktu bapakku marah ke mamaku malam hari itu aku bilang kejadian itu sama kamu dan Natasha.  Ini orang gak tertarik sama sejarah, politik, apalagi bahas kondisi sekarang di NKRI. Tapi aku senang waktu Natasha nanya tentang Aleppo dan siapa Bashar Al-Assad. Aku senang karena dia mau tahu. Sering aku ngajak Natasha (emang biasanya ngajaknya Natasha)  dan sebaliknya Natasha juga suka ngajak aku pergi ke event tertentu, kayak Gelar jepang UI (oiya kami punya foto bersama dengan para cosplay hahaha), scholarship expo, atau acara lain di kampus, atau makan es krim di deket stasiun pondok cina. Aku suka ngirim fotoku ke Natasha kalau aku lagi ngapain gitu termasuk kalau mataku bengkak atau habis potong rambut. Karena kesamaan yang sering jalan sendiri, makanya sekarang kalau pergi biasanya berdua. Natasha udah putus sama pacaranya, Iqbal anak ITB, di awal-awal semester. Natasha anak bungsu dari dua bersaudara, kakaknya perempuan kuliah di UNILA sekarang lagi koas. Wacana yang tercipta : aku main ke Tangerang dan Sasa mau ke pantai ujung kulon.


Ghina Desviyanti Ardi

Uni dari Bukittinggi. Orang yang gak kenal Ghina akan menganggap dia judes. Tapi memang iya sih kadang kalau lagi ngobrol nadanya judes hahaha. Anak Tunggal dia. Kenal Ghina dari semester satu bersama Mili dan Weni yang akan ku jelaskan berikutnya. Sama Ghina, aku bisa ngobrol pakai bahasa kasar yang ujungnya bilang astaghfirullah. Kadang aku ikut-ikutan pake bahasa minang dan berujung dengan Ghina bilang “ngomong apaansih lo”.  Semua temanku yang aku tulis di sini memang topik obrolannya gak bisa diajak ke sejarah, politik, agama seperti temen-temen kamu. Kadang sama Ghina ngobrolin tentang perkuliahan, curhat-curhat kalau ada mata kuliah yang belum lulus, ngobrolin masa depan, saling nasehatin. Temanku yang satu ini rajin ikut SP, jadi semester-semester genap kemarin pulang ke rumahnya paling seminggu karena ngejar mata kuliah yang belum lulus. 


Mia Yuliana Pratiwi (Mili)

Mia tapi biasa dipanggil Mili. Aku mulai dekat sama Mili dari semester satu. Suaranya cempreng. Mili juga salah satu temen liqo aku bareng afifah juga. Ni orang aktif ikut lembaga dan acara-acara fakultas. Aku, Mili, Fifah tergabung dalam grup Girls Generation. Sebenarnya di grup itu ada Yayuk, Ifani, Putri, Herra juga tetapi interaksi secara personal lebih sering dengan Fifah dan Mili. Tapi yang lainnya juga asik. Karena aku sama Mili udah kenal dari semester satu, dia mungkin merasakan perubahan aku. Kata dia, semester awal-awal aku tuh bisa dikatakan sableng, hiperaktif (?) tapi mungkin sekarang rada pendiem. Aku suka cerita ke Mili misalkan aku habis baca sesuatu yang bikin aku gelisah, atau aku kirim tulisan tentang pencarian diri ke dia, biasanya dia menyuruhku gak usah cari tahu dan kalau aku kirim tulisan tentang pencarian diri biasanya dia gak mau ladenin. Dia bilang gak mau merusak pertemenan gegara itu. Semenjak itu, aku gak pernah kirim atau ngobrol tentang hal kayak gitu lagi sama Mili.

Afifah Patriani 

Baru dekat sama Fifah pas semester 3 kalau gak salah. Anaknya rajin dan suka kokoreaan. Fifah itu orang yang suka langsung chat aku secara personal kalau di grup keliatan aku lagi gak semangat atau sedih. Dan biasanya setelah aku cerita, dia bak motivator dadakan. Baik banget. 

Anak Agung Sagung Weni Kumala Dewi 

Ya. Namanya panjang. Hindu. Aku manggil Weni : dut (gendut). Tapi gak gendut padahal mah, cuma orangnya kadang lebay bilang dirinya gendut.  Weni orangnya dewasa dan dia itu anak gawl Bali. Dia punya pacar, namanya Gungde. Mereka LDR-an Depok-Bali. Weni kemarin baru dikasih cobaan oleh dosen pembingbingnya. Dia kan bidang penelitiannya Farmakologi, pas mau seminar proposal tiba-tiba pembimbingnya bilang “saya cuma bisa ngebimbing dua orang, jadi kalian silakan pindah ke bidang penelitian lain”. Akhirnya Weni dan 3 orang lainnya cabut dari Farmakologi pindah ke Farmasi klinis. Aku gak tahu dosennya kenapa cuma bisa ngebimbing dua orang, gak ngerti. Kenapa Weni dan 3 orang itu yang cabut? Karena mereka ikut proyek bapaknnya, sedangkan ada 2 orang yang masih sama bapaknya karena bukan ikut proyek. Sekarang dia lagi garap proposal lagi. 

Hesti Octaviapin

Si kampret hahaha. Kenal Hesti semenjak jadi panitia di Mari Mengajar 3. Partner ngomong sunda kasar di UI. Di manapun kalau sama Hesti ngomongnya sunda kasar terus. Selama aku jadi pengurus Forkoma, pokoknya aku selalu sama Hesti terus. Kalau ada acara Forkoma, Hesti datang aku datang, Hesti gak datang aku juga enggak haha. Terus nih kadang Hesti suka nginep di kosku, atau aku juga kadang nginep di kosan Hesti. Si kampret ini bukan anak Farmasi, tapi FKM. Ni orang udah lulus dari FKM 3,5 thn. Tanggal 4 Februari besok wisuda dia. Rencana abis lulus si Hesti ini bakalan ikut proyek penelitian dosen dulu, tentang apa ya…lupa, ngambil datanya di Jambi selama 1 bulan apa kalau gak salah. Semoga selalu dimudahkan rencananya. 

Mereka, ke 6 temanku di sini yang dekat sama aku. Tanpa mereka, aku gak bisa bertahan di Farmasi. Kesamaan dari kesemuanya adalah bahwa aku gak bisa ngobrol selain pelajaran Farmasi. Aku kira mereka bisa aja diajak ngobrol politik, kayak politik di Indonesia sekarang, tapi mereka itu cuek, jadi gak mau ngurusin hal begituan. Jadi ya biasanya sama semua temanku itu ngobrolin tentang materi kuliah, cerita/curhat, belajar bareng, seperti pertemenan pada umumnya lah. Teman yang justru memberikan aku perubahan dalam memandang hidup ini , yang membuat aku dapat membagi mimpiku ke semua orang,  dan membuat aku tertarik belajar bidang lain, yaitu kamu, pacar aku. 

Tugas Khusus ASF

Hari ini aku bangun seperti biasa, dunia tidak berubah. Lagian, bagaimana bisa aku melihat dunia yg berbeda tapi diriku sendiri belum menunjukan perubahan bermakna untuk diri sendiri dan sekitarku. Tetapi  hari ini aku berharap tugas khusus praktikum ASF berjalan lancar sehingga dalam satu hari ini selesai dan tidak perlu kami menambah jam untuk tugas ini di luar jam kelas.

Tapi,

Nyatanya tidak demikian.

Sediaan yang akan dianalisa dengan ketersediaan reagen di lab tidak mendukung. Akhirnya kami coba memakai metode untuk analisa yang bukan garamnya. Tapi, tidak berhasil. Mungkin juga ada faktor lain yang mempengaruhu kegagalan tugas khusus ini, seperti kolom HPLC yang masih kotor. Setelah berkutat dengan kegagalan analisa sejak pukul 8 hingga jam 4 sore akhirnya kita memutuskan untuk mengambil kelas jumat jam 8 hingga pukul 9 malam, analisa ulang,  dengan acuan  dari BP 2013. (sebelumnya pakai acuan USP 32)

Sementara itu, salah satu dari kami bilang jika kelompok sebelah sudah running dari pagi, intinya tugas khusus mereka berjalan lancar. Dia membandingkan keberhasilan kelompok kami dengan kelompok lain yang jelas-jelas hal dan masalah yang dihadapai kedua kelompok  ini berbeda.

Hal demikian yang terjadi di sekitar kita. Proses seseorang untuk mencapai keberhasilan itu berbeda. Bahkan parameter keberhasilan itu sendiri berbeda tiap orang. Tidak sama. Tetapi dalam prosesnya, ada yang harus menemui kegagalan berkali-kali sampai akhirnya sampai ditujuannya. Ada pula yang jalannya mulus kayak pantat bayi. Dan kita gak berhak untuk membanding-bandingkan keberhasilan itu. Lalu, apa yg harus kita lakukan ketika kegagalan terus menenmui kita? Bangkit.  Karena Gada pilihan kecuali bangkit. Menganalisa kegagalan lalu menyusun strategi baru untuk mencapai keberhasilan, tentunya keberhasilan menurut versi masing-masing.